(Jangan) Katakan Ini Pada Calon Ibu

Ekstra hati-hati ya, menghadapi calon Ibu yang super sensitif. Apa saja komentar yang sebaiknya dihindari?

Tidak perlu kaget jika Anda mendapati seorang ibu hamil mendadak cengeng atau malah jutek. Saya, adalah salah satu dari banyak wanita yang mengalaminya (dan kemudian merasa takjub mengingat segala tingkah ajaib pada saat hamil: “Kok denger lagu aja bisa nangis yaaa?”) Faktor hormonal ada penyebab utamanya. Pada saat hamil, sebagian besar wanita sensitif terhadap kenaikan hormon estrogen, sementara sebagian lainnya sensitif terhadap kenaikan hormon progesterone. Ada juga yang mengalami kenaikan level hormon stress.

Pernah merasakan hamil beberapa kali, saya cukup kenyang dengan komentar-komentar yang cukup bikin sensi, mulai dari yang sebenarnya harmless sampai yang bikin cukup gemes. Kalau diingat-ingat, berikut beberapa komentar tersebut.

1. “Waaah makin gede aja!”, atau “Kok nggak kelihatan hamil ya, perutnya masih kecil aja!”

Saat hamil, perut saya memang tergolong kecil walaupun bb bayi saat lahir keduanya di atas 3,5 kg. Jangan tanya kenapa, saya pun tidak tahu. Some women are just naturally thin even though they’re expecting.  Komentar yang paling sering saya dengar, misalnya: “Kok masih kecil aja sih perutnya, banyakin dong makannyaa!”, sampai yang paling cetar: “Kok kecil? Hamil boneka barbie yah?” Some people care too damn much ya, saya mencoba berpikir positif aja walaupun sebenarnya merasa komentar-komentar tersebut berlebihan.

Jadi, begini. Walaupun biasanya pemberi komentar tidak bermaksud menyinggung dan hanya sekedar basa-basi, ukuran adalah hal yang sensitif bagi ibu hamil.  Memberikan komentar bahwa dia terlihat ‘besar’ bisa jadi membuat calon ibu tersinggung. Sebaliknya, komentar tentang perut yang masih terlihat kecil dapat membuat calon ibu menjadi kepikiran tentang berat badan calon bayi.

Sebaiknya katakan: “Kamu kelihatan glowing/cantik banget deh!” Dijamin setiap ibu hamil akan semakin bahagia!

2. “Hai bumil, boleh pegang perutnya nggak?”

Kalau yang berkata masih keluarga dekat, saya cuma bisa tersenyum sambil berkata: “jangan kencang-kencang yaaa, takut kontraksi,” dan syukurlah rata-rata cukup memahami kekhawatiran saya yang sering mengalami kontraksi dini saat hamil. Tapi kalau yang memegang bukan keluarga, jujur saya terkadang susah untuk menolak. Saya mencoba memahami bahwa mereka merasa gemas, sayang dan ingin merasakan tendangan si kecil. So, yeah.

Yang sebenarnya perlu dipahami adalah, perut seorang ibu hamil bukanlah properti milik publik. Apalagi, masih ada beberapa orang yang saat bertemu langsung mengelus perut ibu hamil tanpa meminta ijin. Seperti pengalaman saya di atas, jika Anda bukan keluarga atau sahabat dekat, hal tersebut dapat membuat ibu hamil merasa tak nyaman dan canggung.

Sebaiknya katakan: “Gimana, bayinya sudah mulai menendang belum?”

3. “Baby-nya cewe atau cowo nih?”, atau “Apa nih calon nama buat bayi kamu?”

Karena cukup panjang, pengalaman dan perasaan saya seputar komentar ini akhirnya saya tulis di sini. Dibaca ya, hihi.

Kesimpulan sederhananya, urusan gender dan nama bayi biasanya merupakan privasi calon orangtua. Ada pasangan yang memilih untuk tidak mengetahui jenis kelamin calon bayi hingga saatnya lahiran nanti.  Kecuali jika calon ibu terlebih dahulu mengungkapkan jenis kelamin bayi atau meminta pendapat Anda seputar nama bayi, rasanya lebih aman untuk menghindari topik ini.

Sebaiknya katakan: “Gimana, udah tahu jenis kelamin baby-nya, atau mau jadi surprise aja nih?” To the point, dan tetap sopan.

4. “Proses lahiranku dulu sampai 24 jam lebih, lho”, atau “Saranku nanti mending minta epidural, deh.”

Cerita lahiran seringkali menjadi momok bagi calon Ibu. Sayangnya, bagi sebagian orang yang kurang peka,  proses kelahiran malah dianggap seperti “olimpiade rasa sakit” dan mereka justru berlomba-lomba untuk bercerita demi menegaskan bahwa itu adalah proses yang tak menyenangkan. Saya cukup banyak menerima cerita seram seputar persalinan karena kebetulan pernah tergabung dengan klub hobi yang berisikan ibu-ibu dari generasi lebih tua dan terlihat menikmati eskpresi saya saat mereka bercerita (padahal kadang saya akting saja tuh, haha).

“Mi, kamu hamil ini nggak keputihan kan? Soalnya ponakanku kemarin lahiran pas keputihan hebat jadi bayinya bentol-bentol.”

Atau… “Mi, rajin-rajin pijat payudara ya, jangan sampai tersumbat. Anak kenalan mbak kemarin kejadian mesti dicongkel pakai alat sumbatan putingnya..”

Wow. Thank you. Haha. Saya yakin maksudnya baik dan mengingatkan. Tapi kembali lagi, ibu hamil masa kini biasanya telah mendapatkan banyak informasi mengenai proses kelahiran melalui dokter, bidan, web kesehatan maupun social media. Dan selama hamil, calon ibu cenderung ingin bersikap optimis dengan mendengarkan cerita-cerita persalinan yang bersifat positif. Jadi tolong, jika calon ibu tidak bertanya, simpanlah cerita Anda, yah.

Sebaiknya katakan: “Melahirkan memang sakit, tapi begitu bertemu dengan bayinya, sakitnya langsung nggak berasa. It’s worth it!”

5. “Mumpung belum lahiran, puas-puasin deh jalan-jalan..”

Di telinga calon ibu yang tengah sensitif, kalimat ini seringkali diterjemahkan sebagai: “bersenang-senanglah, karena setelah ada bayi nanti akan repot, ribet,” dan sebagainya. Terdengar lebay, tapi seakan-akan setelah punya bayi segala kesenangan akan berakhir, padahal sebenarnya tidak.

Sebaiknya katakan: “Pasti kamu sudah nggak sabaran ketemu sama bayinya, ya!”

6. “Lahirannya nanti normal, kan?”, atau “Jangan lupa nanti ASI ya, jangan kasih sufor baby-nya.”

Percayalah, setiap calon ibu pasti telah memiliki pertimbangan sendiri dalam memilih metode melahirkan. Dan mereka juga pasti ingin memberikan yang terbaik untuk bayi mereka, termasuk Air Susu Ibu (ASI). Namun, setiap ibu memiliki cerita dan prioritas yang berbeda. Kalaupun nantinya harus melahirkan via c-section karena alasan medis, atau dia tak mampu memberikan ASI karena support system yang tidak mendukung, itu bukanlah tempat kita untuk menghakimi dan memberikan komentar.

Sebaiknya katakan: “Semoga lancar dan sehat semua ya, sampai lahiran nanti.”

Yuk, lebih sensitif dan menghargai perasaan mereka yang tengah mengandung.

Ami

http://www.sayaibu.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s