Ibu Rumah Tangga Kekinian

“Kamu sekarang kerja di mana?”

“Di rumah aja, ngurus anak-anak.”

“Waduh sayang banget dong, ilmunya nggak kepakai..”

Familiar dengan percakapan di atas? Jika Anda berada di posisi Ibu Rumah Tangga (IRT), wajar jika merasa dihakimi, seolah menjadi IRT adalah a dead end, akhir dari segala-galanya. Padahal, latar belakang dan situasional setiap keluarga berbeda. Ada yang menjadi IRT karena tidak memiliki support system yang mendukung (jauh dari orang tua dan mertua, tidak dapat asisten rumah tangga yang cocok), panggilan hati karena merasa lebih bahagia di rumah bersama anak, atau karena mengalami depresi pasca melahirkan sehingga tidak bisa langsung kembali ke dunia kerja. Dan masih banyak lagi.  The list could goes on.

Sebenarnya banyak hal positif yang didapat keluarga dan sang ibu jika Ia memutuskan untuk menjadi IRT. Hanya saja, kecenderungan masyarakat Indonesia masih menempatkan IRT di strata bawah ibu pekerja, walaupun dua-duanya sama-sama mulia. Wikipedia malah mendefinisikan IRT sebagai kebalikan dari wanita karier. Hmmm..  Padahal di jaman touch screen ini, karier bisa dimulai dari rumah.

 

IRT Masa Kini

IRT muda masa kini sekarang telah berubah wajah. Alih-alih hanya berkutat dengan daster dan ulekan, banyak di antara mereka yang mengendalikan bisnis dari rumah. Bisnisnya macam-macam, mulai dari memanfaatkan skill yang didapat semasa belajar seperti graphic designer, web content editor, PR consultant, hingga merambah ke bisnis mama/beauty blogger, online shop atau catering sehat untuk anak dan keluarga.  Mereka yang tak memiliki pekerjaan sampingan pun tak kalah keren. Saya memiliki beberapa teman yang dengan tekun berperan aktif dalam proses tumbuh kembang si kecil, misalnya menyiapkan permainan dengan metode Montessori atau rutin melakukan percobaan sains sederhana di rumah. Seorang teman bahkan kemudian menjadi guru homeschooling untuk anaknya. Keren bukan?

Kecenderungan ibu menjadi IRT saat ini nampaknya tengah mengalami peningkatan.  Sebuah survey yang dilakukan oleh Pew Research Center di Amerika Serikat pada 2007 menunjukkan bahwa kebanyakan IRT saat ini (48%) menyatakan bahwa menjadi IRT merupakan pilihan yang ideal dibandingkan 10 tahun yang lalu (sebanyak 39%). Dan sebaliknya, hanya 21% ibu bekerja yang menyatakan bahwa memiliki karir di kantor adalah idel, turun dari angka 32% di tahun 1997. Sayangnya survei serupa nampaknya belum pernah dilakukan di Indonesia.

Susan Saphiro, sorang penulis dan ahli isu wanita mengungkapkan pada situs http://www.parenting.com, bahwa “dalam riset saya, banyak generasi millennial yang lebih ingin menjadi seperti nenek mereka ketimbang ibu mereka,” kata Susan. Tapi, bukan berarti mereka hendak mengesampingkan karir begitu saja. Namun, generasi ibu muda masa kini dan yang akan datang akan lebih banyak peduli terhadap kualitas hidup yang seimbang antara karir dan keluarga.

“Ibu bekerja, maka negara sejahtera”. Begitu ungkapan yang pernah ditulis oleh seorang kenalan di media social. Tapi yuk, lebih sedikit “menyayangkan”, dan lebih banyak suportif pada IRT. Karena definisi bekerja toh tidak lagi rigid. Di masa depan, kaum ibu kekinian dan masa datang alias ibu generasi millenial dapat melakukannya di mana saja, entah di sebuah kubikel kantor, sambil ngopi di kafe, atau sembari mengawasi anak bermain di rumah.

Salam,

Ami

www.sayaibu.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s