My Pregnancy Story: Hamil Setelah Tiga Tahun Menikah

Cerita: Utami (32), Web Content Editor, Jakarta.

Setelah menikah, kami tidak langsung dikaruniai keturunan. Proses menunggu kehamilan saya pun terbilang cukup lama, yakni 3 tahun. Padahal, kami berdua sudah bolak-balik ke dokter kandungan dan dinyatakan sehat. Memang, setelah menikah saya melepaskan karir di ibukota dan memilih untuk ikut suami tinggal di sebuah kota kecil di Sumatra. Jauh dari keluarga dan sahabat, saya sempat merasa kesepian dan sedih. Menurut dokter, hormon stress dapat berpengaruh pada program kehamilan.

Di tahun kedua pernikahan, saya sempat hamil, sayangnya janin kami yang berusia kurang lebih 8 minggu harus kami relakan karena saya mengalami perdarahan dan keguguran. Setelah dikuret, saya sempat sibuk ikut pameran craft dan traveling sendirian, sehingga tidak sempat memikirkan program hamil. Walaupun begitu, saya tetap menjaga kondisi badan dengan makan makanan bernutrisi, rutin minum jus tomat apel dan wortel, serta melakukan fertility massage. Begitu kesibukan usai, selang 5 bulan setelah dikuret, keajaiban itu terjadi. Saya positif hamil. Pelajaran yang dapat saya petik adalah: ketika saya berpasrah, tidak menjadikan hamil sebagai beban pikiran, maka di saat itulah Tuhan memberi saya kepercayaan untuk menimang bayi.

Kehamilan saya terbilang cukup lancar. Walaupun, saya sempat mengalami flek cokelat muda dan dirawat semalam di rumah sakit. Syukurlah, dokter memastikan bahwa janin sehat dan flek tersebut adalah perdarahan implantasi. Trimester satu juga saya lalui dengan sedikit mual dan muntah. Saya merasa lebih sensitif pada bau. Saya tidak suka mencium bau senar gitar koleksi suami. Saya langsung mual mendengar suara kulkas yang dibuka-tutup, karena terbayang bau makanan. Saya muntah di toilet, di karpet, hampir di mana-mana. Permen asam pun tiba-tiba menjadi teman setia. Selama trimester satu, saya hanya bisa makan roti tawar dan rendang ayam yang agak pahit. Syukurlah, rasa mual tersebut mereda di akhir trimester satu.

Pada trimester kedua, saya merasakan round ligament pain, yakni sensasi rasa sakit seperti ditarik pada area perut bawah kanan dan kiri. Menurut dokter, ini diakibatkan oleh meregangnya ligamen-ligamen yang mengelilingi rahim akibat pertumbuhan janin. Walaupun rasa sakit tersebut sempat mengganggu aktivitas sehari-hari, saya tetap bersyukur karena hal tersebut berarti sang janin tengah bertumbuh di dalam kandungan. Pada semester dua ini pun saya pertama kali merasakan bayi bergerak di dalam kandungan. Sensasinya seperti merasakan ada ikan kecil yang berenang di dalam perut. Sedikit geli, tapi mengharukan!

Trimester kedua dan ketiga adalah saat-saat yang paling aktif bagi saya. Walaupun tengah hamil, saya tetap bekerja dari rumah sebagai web content writer untuk sebuah perusahaan farmasi di Jakarta, serta menjahit beberapa quilting bed cover, bahkan yang berukuran king size! Selama trimester kedua dan ketiga, saya juga merasakan hasrat yang besar untuk lebih sering memasak, terutama makanan-makanan yang susah saya dapatkan di kota tersebut.

Menjelang akhir trimester ketiga, ketika kehamilan memasuki usia 36 minggu, saya mulai mengurangi aktivitas karena mulai sering mengalami braxton hicks. Karena sempat dirawat di emergency karena mengalami kontraksi ringan, dokter pun menyarankan supaya saya istirahat selama seminggu, kemudian mulai beraktivitas kembali. Beberapa aktivitas yang saya lakukan menjelang melahirkan misalnya, senam hamil serta jalan pagi dan sore keliling lapangan bola di dekat rumah.

Akhirnya, saat yang kami nanti-nanti pun tiba. Pada usia kehamilan 40 minggu 2 hari, saya berhasil melahirkan anak pertama kami. Sakit kontraksi dan mengejan langsung hilang begitu bayi kami diletakkan di dada saya untuk inisiasi menyusui dini. Yang ada adalah rasa terharu dan bahagia. Saya ingat mencium keningnya sambil tertawa, dan baru menangis setelah saya didorong ke ruang pemulihan. Tiga tahun mungkin waktu yang cukup lama, tapi bagi saya semuanya terasa sungguh sepadan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s