Memilih Nama Bayi

Beberapa tahun yang lalu, saya dan suami secara tidak sengaja bertemu dengan kawan lama suami. Kebetulan, sang istri tengah menggendong bayi nan lucu dan menggemaskan.

Saya langsung menanyakan nama sang anak.

“Nama baby-nya siapa mbak?”

“Frlejdysls.”

“Freldhays?”

“Bukan, Frelshdts.”

“Hah, Frensgdlsy?”

(hiks)

Believe me, rasanya sungguh tidak enak saat kita tidak dapat menyebutkan nama bayi seseorang dengan benar. Berkali-kali pula. Ada perasaan bersalah, malu, canggung, campur-aduk. Dalam perjalanan pulang pun, suami sempat berucap, “Jangan terlalu dipikirin Yang, nama anak mereka memang susah, kok.” Tapi saya pun langsung bertekad, kalau nanti dikaruniai bayi, kami harus teliti memilih nama yang unik, namun sekaligus simple, pas dan tidak “memberatkan”-nya. Nah, beberapa pertimbangan yang saya gunakan saat memilih nama untuk bayi kami adalah:

Bermakna positif. Nama adalah doa, sekaligus hadiah pertama yang kita beri pada anak. Karenanya, sebaiknya lakukan riset literatur ataupun via internet tentang arti dan sejarah nama yang Anda sukai. Pastikan pilihan nama lengkap, panggilan maupun inisial si kecil nantinya bermakna positif dalam berbagai bahasa. Nama tersebut juga sebaiknya  tidak pernah dimiliki oleh tokoh-tokoh dunia yang memiliki kesan negatif. Jangan sampai, Anda memilih nama Suri misalnya, yang berarti “mawar merah” dalam Bahasa Persia, namun berarti “copet” dalam Bahasa Jepang. Ups!

Mudah diucapkan. Nama yang mudah diucapkan, bagi saya memberi kesan yang humble dan membumi. Nama yang sederhana pun, ternyata memiliki dampak yang baik untuk masa depan bayi Anda. Pada sebuah studi yang dilakukan pada 500 orang pengacara, mereka yang memiliki nama yang lebih sederhana terbukti memiliki karir yang lebih cepat melesat serta menduduki lebih banyak posisi senior (sumber survey di sini). Selain itu, nama yang mudah diucapkan secara lisan juga dianggap memiliki kesan yang baik.

Diterima oleh Orang-orang Terdekat. Yang utama, tentu saja adalah suami. Karena pada akhirnya, nama anak menjadi kesepakatan kami berdua. Selain itu, kami juga meminta saran dan pendapat ke beberapa orang terdekat, seperti orang tua. Tidak ada salahnya juga jika Anda mengobrol dengan sahabat terdekat, maupun secara anónim  ke forum online. Tentu saja, ini tidak dapat Anda lakukan jika Anda dan suami memutuskan bahwa memilih nama ada dalam ranah privasi. Semua kembali ke rasa nyaman Anda dan pasangan, ya.

KISS! (Keep It Simple, Sayang!). Saat memilih nama untuk bayi, kami sepakat untuk membatasi namanya menjadi 3 kata, yakni nama depan, tengah, dan akhir. Setiap katapun, dibatasi menjadi maksimal 4 suku kata. Kebetulan, keluarga kami tidak mengenal tradisi nama keluarga. Pertimbangannya adalah agar di masa depan dia tidak repot ketika misalnya harus berhadapan dengan birokrasi, seperti saat mengisi berbagai macam formulir.

Naming your baby is a big thing. I reckon, it’s a big thing and a fun thing to do! Kuncinya, adalah dengan menikmati prosesnya sebagai sebuah petualangan dan pembelajaran baru.  Jadi, selamat memilih nama, ya!

Salam,

Ami

http://www.sayaibu.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s