Kamu Lahiran Normal atau Caesar?

Seorang teman pagi ini membuat status di akun media sosialnya: “Apa ya pentingnya menyebut ‘born on a natural birth’ pada status media sosial? Kalaupun (sang bayi dilahirkan) tidak dengan cara normal, trus kenapa?” Tentu saja, banyak yang langsung merespon status teman saya ini. Ada yang memberikan alasan supaya tidak ditanya-tanya lagi, ada pula yang merasa sedih dan dihakimi karena melahirkan secara caesar atau c-section. Intinya, mereka kemudian menyayangkan budaya masyarakat kita yang terkadang sering kepo dan judgemental.

Tentu saja, saya menghormati pandangan teman saya ini. Apalagi dia belum berkeluarga, sehingga mungkin belum merasakan berada di posisi ‘ibu-ibu’ yang kadang saling sensitifan. Persoalan mengumumkan metode kelahiran melalui media sosial, memang berpotensi menjadi ajang pamer dan bikin baper. Padahal, tidak semua ibu-ibu bermaksud pamer, dan tidak semuanya gampang baperan.

Nah, pernahkah kita melihat dari sudut pandang ibu yang baru saja melahirkan?

Sebagai ibu yang pernah melewati proses melahirkan, ijinkan saya sedikit berbagi, ya.  Melahirkan (baik normal maupun caesar), adalah puncak perjuangan seorang calon ibu, baik secara fisik maupun emosional. Pada kasus saya, masa kehamilan selama 10 bulan terlewati dengan rasa bahagia. Namun, ada juga rasa cemas dan percaya diri yang naik turun karena beberapa kali dibombardir berbagai pertanyaan tidak penting. Salah satunya: “Kamu yakin mau melahirkan normal? Pinggul kamu kan kecil?” (Okay, I even got this question after my baby was born hahaha)

Beruntung, saya memiliki suami, sahabat dan dokter kandungan pro normal yang selalu menyemangati saya. Dan ketika akhirnya saya berhasil melahirkan secara normal, ada rasa sukacita dan lega. Rasanya bahagia, karena akhirnya bisa memandang wajah bayi yang dinanti-nanti. Dan rasanya ingin pengumuman ke seluruh dunia, bahwa: yes, saya lahiran. Dan yes, lahirannya normal, tidak seperti yang ditakutkan beberapa pihak sebelumnya. Namun, niat mengumumkan metode melahirkan itu saya urungkan, karena ingin menjaga perasaan beberapa saudara dan teman yang melahirkan secara caesar.

Nah, yang ingin saya sampaikan adalah, sebagai ibu baru, saya merasa mengalami ‘kelahiran kembali’ setelah memiliki bayi. Ada perasaan lega yang tak dapat diungkapkan. Penyebabnya, adalah hormon oksitosin yang dikeluarkan ibu pada saat mengalami kontraksi dan melahirkan. Hormon ini, diperlukan saat mengejan karena dapat membuat calon ibu seakan dipindahkan sementara ke ‘dimensi lain’, sehingga mereka dapat fokus mengejan tanpa terganggu. Selain itu, oksitosin juga krusial saat ibu menyusui dan bonding dengan bayi, serta disebut ‘hormon cinta’, karena membuat ibu baru mengalami sensasi bahagia setelah melahirkan.

Perasaan bahagia itulah yang saya alami sesudah melahirkan. Saya percaya, para ibu yang menuliskan ‘born on a natural birth’, ataupun ‘labor lewat persalinan normal’ tidak bermaksud sengaja untuk pamer atau membuat pihak lain merasa tidak nyaman. Belum tentu mereka memiliki penghakiman terhadap ibu yang lain. Mereka hanya meluapkan rasa gembira, lega dan syukur usai proses melahirkan yang melelahkan. Persis seperti menyentuh garis finish di ajang marathon, kata seorang teman. Dan tentunya kita ikut bahagia kalau teman bahagia kan?

Percayalah, seorang ibu yang baru melahirkan tidaklah sempurna. She’s just a human. Jadi yuk, jangan membatasi seorang ibu baru berbagi rasa bahagia. Lagipula, masih banyak hal lain yang patut dicemaskan di dunia ini lebih dari sekedar pernyataan kelahiran di media sosial. Let them be!

salam,

Ami

http://www.sayaibu.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s