Trauma Makan Mayit #makanmayit

Peristiwa empat tahun yang lalu itu masih terekam jelas di memori. Saya terbaring menahan tangis di atas dipan dingin ruang operasi. Sehari sebelumnya, saya mengalami perdarahan di rumah. Ya, calon bayi kami, yang baru berusia 8 minggu, harus segera dikuret. Saat berpuasa menjelang dikuret, saya sempat menangis hebat. Kalau boleh, saya ingin bayi tersebut tetap tinggal di rahim saja. Hal yang tentunya dilarang oleh tim dokter. Saya masih ingat, dokter anestesi kemudian berusaha menenangkan saya sembari menyuntikkan obat bius di lengan saya. Sekarang pun, lagu rock yang saat itu diputar di ruang operasi seperti kembali terngiang-ngiang di telinga.

Saya menggigil hebat seusai dikuret. Menurut suami, begitu keluar dari ruang operasi, sambil setengah sadar saya bertanya, “Dok? Anak saya mana? Anak saya cantik dok?” Saya, tidak ingat pernah berkata seperti itu. Namun, saya ingat merasa sangat-sangat kehilangan. Sekecil apapun dia, serapuh apapun dia, saya ingin merengkuhnya, membelainya. Hingga kini pun, kami berdua masih sering mengingatnya, mendoakannya sambil meneteskan air mata. Saya, suami saya dan mungkin juga orang tua lain yang pernah mengalami kehilangan akan selalu menganggap bayi-bayi kami yang belum bernama itu sebagai jiwa yang sakral, jiwa yang selalu dirindukan.

Lalu muncul #makanmayit.

Kaget? Iya. Marah? Tentu. Saya tidak habis pikir, kok bisa-bisanya seseorang yang menamakan dirinya seniman membuat “pergelaran seni” yang bertemakan kanibalisme terhadap bayi? Parahnya lagi, makanan tersebut diklaim terbuat dari ASI dan ekstra keringat ketiak bayi. Dua bahan ini, menurut saya sih, masih perlu dipertanyakan. Bisa jadi, Natasha Gabriella Tontey sengaja berbohong karena ingin bereksperimen dengan ketakutan para peserta “fine dining” tersebut.

Tapi beneran, deh. Sebegitu sempitkah dunia sehingga harus menggunakan bayi sebagai alat peraga? Apa urgensinya? Kalaupun memang ingin mempertanyakan kontruksi ketakutan dalam masyarakat, saya rasa masih banyak cara-cara lain yang lebih elegan dan tidak melanggar norma kepatutan, ataupun membangkitkan rasa trauma, sedih, ataupun sakit hati pada komunitas lain.

Hal lain yang membuat saya kesal adalah, para panitia dan peserta jamuan #makanmayit yang rela merogoh kocek setengah juta untuk ditakuti dan merasa takut, adalah para anak muda yang sepertinya belum berkeluarga. Mereka juga mungkin belum pernah merasakan pedih-perihnya berjuang memperoleh anak, keguguran, maupun mengalami  trauma stillbirth. Saya tidak ingin menghakimi, tapi by any chance kalau ada pesertanya yang membaca ini, saya ingin dia menjawab jujur: “Apa tujuan Anda ikut #makanmayit?” Kalau ingin merasa takut, takutlah pada Tuhan atau masa depan. Semoga, tujuan Anda tak hanya for the sake of being artsy, edgy dan eksis di Instagram, ya.

Saya sesalkan sang seniman Natasha Gabriela Tontey nampaknya enggan (atau takut?) berdialog langsung dengan publik. Akun instagramnya, @roodkapje digembok. Oke, dia sudah meminta maaf. Namun, menurut saya seniman yang baik menurut saya, adalah seniman yang berani mempertanggungjawabkan karyanya. Jika memang tujuan awal Tontey adalah (seperti dikutip dari portal berita detik) untuk ‘memberikan tawaran pemikiran alternatif’, ‘memicu dialog atau perdebatan dan membuka kemungkinan’, maka hadapilah pertanyaan, pujian maupun kritik secara terbuka. Jika perlu, bukalah ke publik kesimpulan dialog dan eksperimennya.

Terakhir, saran saya untuk sang seniman Tontey. Saya bukanlah seniman, jadi mungkin nggak cukup ilmu untuk memperdebatkan definisi seni maupun kontruksi realitas atau ketakutan. Saya cuma seorang ibu, seorang miscarriage survivor yang merasa terluka dan trauma melihat #makanmayit. Besok-besok, kalau mau membuat jamuan serupa, bolehlah dibuat private saja ya, seperti layaknya orgy atau swing party. Tidak usah banyak orang yang tahu, dan tidak usah gaduh di instagram. Dengan begitu, kalian bisa berdiskusi santai dan fokus berdialog membangun negeri.

Mereka bilang itu seni. Mereka bilang itu adalah sebuah eksperimen sosial,  cara untuk membuka dialog, dan mempertanyakan kontruksi realitas. Tapi bagi saya, #makanmayit adalah sebuah karya “seni” yang menyakitkan, tidak sensitif dan murahan. Tidak lebih, kurang boleh.

Salam,

Ami

http://www.sayaibu.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s