Instamama vs Realitamama

Langit biru, pasir putih. Sepasang suami-istri muda itu terlihat berlari di pinggiran pantai. Sang suami, menggendong bayi mereka dengan penuh afeksi. Istrinya yang selalu tampak modis dengan gaun kekinian berusaha mengejar di belakang. Raut wajah mereka menampakkan rasa bahagia.

Adegan sinetron? Bukan, tuh. Citra semacam di atas hanyalah salah satu di antara ribuan foto serupa di akun pasangan pesinetron Chelsea Olivia dan Glenn Alinskie.  Selain foto-foto yang memperlihatkan kebahagiaan dan gambaran-nyaris-sempurna keluarga kecil mereka, terselip juga foto-foto endorsement yang diambil secara profesional. Klik kolom komen, dan di antara komentar obat pelangsing, maka Anda akan menjumpai komentar-komentar seperti: “#familygoals”, “Nih, yang (tag pacar)”, “Nanti kita gini yaa (tag pacar)”, dan sejenisnya.

Terlihat normal? Ya nggak apa-apa, dong. Namanya juga berbagi kebahagiaan (plus promosi endorsement hotel dan produk). Tapi bagi beberapa kaum ibuk-ibuk rakyat jelita yang bukan pesinetron (baca: saya dan beberapa teman hahaha), isi instagram para mama/ibu muda ini memberikan gambaran yang tidak tepat tentang dunia pernikahan dan parenthood. Apalagi, pengikutnya kebanyakan kaum muda yang hidupnya tidak se-glamour dan berkecukupan seperti mereka, plus masih belum merasakan pahit-manis nikah dan punya bayi/anak. Dampaknya, bisa berujung pada beberapa konsekuensi yang tidak main-main.

Anda boleh bilang saya lebay, tapi ilusi visual yang diciptakan oleh postingan instagram memang tak selamanya berdampak baik. Sebuah penelitian di Inggris yang dipublikasikan di CNBC  pada Mei 2017 mengungkapkan, bahwa Instagram memiliki keterkaitan dengan kasus depresi yang menimpa kaum muda. Studi yang dilakukan oleh Royal Society for Public Health (RSPH) ini dilakukan pada 1,500 anak muda Inggris berusia 14 hingga 24 tahun menemukan bahwa Instagram berkontribusi pada beberapa hal negatif seperti rasa percaya diri yang rendah, dan membuat mereka memiliki body image yang negatif (merasa jelek, kurus, gendut, dan sebagainya) hingga mengalami gangguan tidur.

Nah. Anak muda saja bisa menjadi depresi karena konten instagram, bagaimana dengan kondisi mental seorang ibu setelah melahirkan ya? Bagi mereka yang tidak memiliki support system yang memadai dan mudah terprovokasi konten instagram, menjadi seorang ibu bisa menjadi sebuah pengalaman yang menyesakkan karena segala-galanya bisa menjadi sumber kompetisi. Contoh sederhana saja, sebuah pose cantik seorang instamama yang tengah menyusui usai melahirkan bisa membuat rasa percaya diri seorang ibu lain menjadi drop: “Looh kok udah flawless aja ya? Aku semingguan habis lahiran masih lecek, kucel, dan badan bau ASI”. Padahal, belum tentu sang selebriti wangi selama 24 jam, kan..

Itu baru contoh sederhana. Belum lagi kalau menyangkut soal metode melahirkan (“Kok c-section sih?”, atau “Anakku lahirnya gentle birth, jadi nggak rewel!”), jumlah ASI yang berhasil dipompa, hingga ke tumbuh kembang anak (“Duh, bayiku seumuran anak si artis A tapi kok belum bisa angkat leher?”), dan sebagainya. Belum lagi, sejumlah kontroversi lain seperti instamama yang memilih memberi bayi mereka MPASI dini, dan golongan selebriti yang antivaksin atau memberikan anaknya vaksin homeopati (bukan vaksin resmi dari RS). Kolom komentar pun bisa berubah dari #familygoals menjadi ajang perdebatan.

Lalu, harus bagaimana dong? Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk meminimalisir tekanan yang diakibatkan oleh aura mompetition di Instagram, setidaknya ini menurut saya, ya:

  1. Pilah-pilih akun yang diikuti. Begitu Anda merasa sebuah akun terlihat lebay, out of reality atau bertentangan dengan prinsip dan metode Anda, langsung saja unfollow atau blok sekalian agar tidak muncul di newsfeed. Selain inner circle, saya lebih banyak mengikuti akun dokter anak, ibu-ibu yang gemar berbagi resep MPASI, permainan DIY dan Montessori serta tentunya, akun online shopping. Bukan berarti semua instamama itu perlu dihindari ya, karena salah satu akun favorit saya hingga saat ini adalah @jetsetmama.  Menurut saya, dia merepresentasikan kehidupan ibu-ibu secara apa adanya yang kadang berantakan, tidak ideal namun tetap menyenangkan.
  2. Selebriti bukanlah panutan. Celebrity is not a role model. Tak bisa dipungkiri, pemujaan terhadap kaum selebriti di Indonesia memang agak berlebihan, ya. Padahal, belum tentu yang ditampilkan di Instagram adalah kenyataan. Semua hanyalah facade alias penampilan luar, kok. Bahkan, seorang Blake Lively pun mengakuinya. Menurut Blake, saat hamil dia adalah salah satu pengikut akun @oldjoy di instagram. “Sebelumnya, dia membuatku mengira memiliki anak adalah hal yang teramat mudah. Tapi kini aku hanya ingin menculiknya agar tidak membuatku frustasi,” kata Blake setengah bercanda. Ouch!
  3. Sadari setiap anak berbeda. Saat melihat akun teman yang anaknya seumuran namun berbicara lebih lancar, saya ingat-ingat lagi bahwa setiap anak memiliki proses tumbuh kembang yang berbeda. Beda anak, beda pintar. Yang penting, saya dan suami sudah semaksimal mungkin menstimulasi proses tumbuh kembangnya. Itulah yang terpenting.
  4. Percaya dirilah! Ini juga mantra yang seringkali saya ucapkan ke diri sendiri. Klise memang, tapi setiap ibu pasti mengusahakan yang terbaik untuk anaknya. Terlepas dari segala keterbatasan dan kegagalan kita, pengalaman-pengalaman itulah yang kemudian membentuk kita menjadi ibu yang lebih baik, bukan semata karena mengikuti trend atau metodenya si instamama. Jika ada saat kita merasa memerlukan pendapat ahli, rasanya lebih bijak kalau langsung berkonsultasi dengan para ahli seperti dokter.
  5. Log out. Yup, sesekali kita perlu detoks digital. Anda bisa membuat kesepakatan dengan diri sendiri untuk log out selama 1 x 24 jam dalam seminggu, misalnya saat akhir pekan. Berani?

Menjadi ibu di era digital ini memang banyak tantangannya, ya. Sebagai ibu, kita diharapkan untuk bijak mengolah dan mencerna informasi yang ada, sekaligus mengusahakan yang terbaik untuk anak tanpa overproud maupun oversharing. Jadi yuk, banggalah menjadi #realitamama! Karena menurut saya, menjadi ibu yang baik bukanlah direpresentasikan dengan feed instagram yang sempurna, tapi dengan kualitas mental Anda terhadap diri sendiri, serta kualitas hubungan Anda dengan anggota keluarga, yakni pasangan dan anak-anak Anda. Happy mom, happy kids!

Selamat menggunakan Instagram dengan bijak, ya!

Salam,

Ami

http://www.sayaibu.com

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s