Bayinya Cewek Apa Cowok?

“Wah, udah makin keliatan ya hamilnya. Cewek apa cowok nih?”

“Perutnya mancung, ya. Pasti cowok ya ini?”

Selama menjalani masa kehamilan kedua ini, dua kalimat di atas rasanya sudah jadi santapan  sehari-hari, hihi. Mau sok rahasia-rahasiaan, sayanya malah jadi nggak enak. Tapi kalau dijawab jujur, respon yang saya dapatkan juga ternyata seragam. Begitu saya nyengir dan menjawab: “Cewek lagi niih, doakan yaaa…”, 90% jawaban penanya biasanya adalah: “Whaa cewek lagi ya? Gapapa, irit dong ya,” atau “Gapapa cewek lagi, biasanya nanti yang ketiga bisa aja cowok, semangat yaaa.”

BOKKKK!

Pertama-tama, ijinkan saya menghela nafas. Fiuh. Maklum, lagi hormonal. Kedua, saya ingin memberikan pernyataan terlebih dulu kalau saya baik-baik saja, sehingga komentar “gapapa” itu sangat-sangat membingungkan. And it hurts. Karena jujur saja, saya sama sekali tidak keberatan dikaruniai dua anak cewek, atau perempuan. Malah dulu saya ingin punya anak kembar perempuan, hingga saya rajin menyimpan gambar anak-anaknya Sarah Jessica Parker dari internet, saking gemesnya sama gaya mereka yang sweet sekaligus quirky ala Punky Brewster.

Jadi? Jujur, saya cukup menyayangkan respon para keluarga/teman/kenalan yang dengan mudahnya atau secara tidak sadar langsung memberikan penghakiman bahwa saya kecewa memiliki bayi perempuan. Tapi di sisi lain, saya pun berusaha memahami bahwa konsep keluarga ideal dalam masyarakat kita adalah, sepasang anak laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki, selain dianggap sebagai penerus nama keluarga, juga diharapkan bisa ‘jagain’ saudaranya yang perempuan. Malahan, di daerah asal saya di Bali yang sistem patrilinealnya kental, memiliki anak laki-laki sebagai purusa (pelanjut keturunan) sangatlah krusial. Sampai-sampai, sebelum hamil pun saya diminta mengikuti upacara dan persembahyangan khusus untuk meminta anak laki-laki.

Masyarakat Indonesia secara keseluruhan pun, saya rasa masih menganggap konsep anak cowo atau laki-laki ini sebagai hal yang penting. Salah satu contohnya, adalah penggambaran keluarga ideal di media, misalnya iklan susu atau peralatan rumah tangga yang selalu menggambarkan keluarga muda dengan dua anak manis, laki-laki dan perempuan. Mereka yang berkomentar ‘gapapa’ ke saya pun, bukan hanya kaum senior (mau bilang kaum Orde Lama tapi nggak enak, hahaha) tapi juga beberapa mama millenial yang tadinya saya harapkan bisa berpikir lebih terbuka dan non-judgmental.

But hey, it’s okay. Let me celebrate my pregnancy. Lupakan saja komentar ‘gapapa’ dan saya ingin fokus pada bayi saya. Dunia berubah. Di masa depan, saya berharap kehadiran bayi-bayi perempuan mendapatkan komentar yang lebih positif tanpa mengecilkan hati seorang bumil. Di dunia masa depan pun, bayi-bayi perempuan yang lahir saat ini bisa jadi menjadi pemimpin dan berguna untuk masyarakat di sekitarnya. Gender tidak penting, yang penting adalah membesarkan bayi-bayi kita sebaik-baiknya.

Bukan begitu?

Salam,

Ami

http://www.sayaibu.com

 

 

 

 

 

Satu pemikiran pada “Bayinya Cewek Apa Cowok?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s