Pengalaman Hamil dengan Darah Kental

Apa itu pengentalan darah? Masih bisa melahirkan normal nggak ya?

Dua pertanyaan di atas cukup menghantui malam-malam saya setahun kemarin. Iya dong, soalnya hamil dan melahirkan adalah sebuah pekerjaan yang maha besar (that’s why it’s called labour!). For months, we grow a human inside us. Sebuah jiwa baru berkembang dalam tubuh kita. Karenanya, adalah impian setiap ibu hamil untuk menjalani masa kehamilan dengan raga yang sehat.

Nah, hamil anak kedua kali ini, tanpa disangka saya didiagnosa mengalami kekentalan darah pada trimester 3. Normalnya, angka D-dimer (indikator pengentalan darah) pada orang yang tidak hamil ada di angka 500. Pada ibu hamil, angka tersebut bisa melonjak ke kisaran 700-1000, dan masih dianggap normal. Namun, pada kasus saya, angka D-dimer melonjak hingga 3.500!

Reaksi saya? Jujur, awalnya sempat denial dan karena merasa sehat, berlanjut dengan episode nangis-nangis karena khawatir dengan kondisi jabang bayi. Apalagi,  pada kehamilan sebelumnya saya tidak dites kekentalan darah dan proses hamil dan lahirannya baik-baik saja, kok. Eh tapi.. Kalau dipikir-pikir, hamil kali ini saya mudah sekali capek, pusing dan kram kaki saat tidur. Jadi malas nyetir karena takut tidak fokus. Naik turun tangga di rumah terasa menyiksa karena bikin keliyengan. Yang paling nggak enak,  setiap saya sekeluarga jalan-jalan di akhir minggu, pada hari berikutnya saya akan merasa tepar luar biasa sampai susah bangun dari tempat tidur.  Beberapa kondisi itu, ternyata adalah gejala pengentalan darah.

Menurut dokter, pengentalan darah merupakan kasus yang seringkali ditemui pada wanita hamil. Penjelasan sederhananya, ini merupakan mekanisme tubuh secara alami untuk mengatasi adanya perdarahan saat melahirkan. Penyebabnya sampai sekarang masih belum diketahui pasti. Namun, kondisi kehamilan memang biasanya akan mengubah komposisi darah, termasuk fibrinogen yang fungsinya membekukan darah. Kondisi kekentalan setiap orang pun berbeda, dan terkadang ada juga yang mengalaminya tanpa gejala, dan berakhir dengan mengalami keguguran.

Saya memang pernah mengalami keguguran sebelum memiliki anak pertama dengan penyebab yang tidak dapat dijelaskan (unexplained miscarriage). Mengetahui hal itu, dokter kandungan saya, dr. Bramundito SpOG menyarankan saya untuk  mengecek konsentrasi D-dimer lewat tes darah. Dikhawatirkan, kalau tidak terdiagnosa maka kondisi ini dapat mengakibatkan bayi memiliki berat badan (bb) di bawah normal akibat asupan makanan melalui plasenta terhalang oleh pengentalan darah. Risiko paling fatal, bayi sama sekali tidak dapat asupan nutrisi dan… Hiks, amit-amit..  Knock on wood!

Khawatir? Tentu saja. Tapi dr. Bram kemudian menjelaskan bahwa selama rajin kontrol dan bb janin naik terus, maka kondisi ini bukanlah masalah. Saya pun dirujuk ke dr. Toman L. Toruan SpPD KHOM selaku dokter hematologi onkologi medik untuk menganalisa hasil tes darah.  Akhirnya, saya diresepkan obat antikoagulasi atau pengencer darah (DIVITI Fondaparinux sodium, suntik 3 kali seminggu), serta Thrombo Aspilet yang dikonsumsi 2 kali sehari sesudah makan. Biayanya? Lumayan ya.. Bersyukur banget karena semua tercover asuransi.

Nah, selama trimester 3 saya bolak-balik ke RS untuk suntik DIVITI. Capek sih nggak, cuma jujur lebih ke lelah mental karena kadang masih merasa sedih harus disuntik terus-menerus. Tapi demi bayi yang sehat, ya kan? Apalagi manfaatnya benar-benar saya rasakan, sampai saya curhat ke dr. Bram: “Dook, saya sekarang bisa jalan-jalan santai lagiii.. Kepala lebih enteng, hihi.” Kedua obat di atas kemudian saya stop sesuai intruksi dokter di usia kandungan 38 minggu untuk mengurangi risiko perdarahan saat melahirkan.

Eh.. Tapi saya masih bisa lahiran normal kan,ya? Ternyata bisa bu-ibuu.. Dr Bram dan dr. Toman meyakinkan saya bahwa banyak kasus pengentalan darah yang tetap bisa melahirkan pervaginam. Selain itu, salah satu dokter yang sering saya temui untuk suntik DIVITI, dr. Nathania juga memberi banyak support dan bercerita bahwa saya bukan satu-satunya yang mengalami masalah serupa. Ada banyak ibu-ibu hamil lainnya yang mengalami kondisi ini (bahkan disuntik sejak trimester awal!), dan masih dapat melahirkan secara normal.

Kalau mau jujur, saya tipe yang cukup woles, kok. Dalam artian, kalau kondisi darah kental ini mengharuskan saya harus melahirkan via c-section, tidak masalah juga. Walaupun sebenarnya rada takut kalau harus dioperasi, hahaha. Prinsip saya, apapun metodenya, yang penting ibu dan bayi sehat selamat. Tapi, karena secara mental merasa siap untuk normal dan tim dokter pun mendukung, saya pun jadi ikut semangat.

Akhirnya, karena merasa lebih enteng sejak disuntik, saya mulai lebih rutin senam dan yoga hamil (ini malah hampir setiap hari hahahaha), dan jalan keliling kompleks selama kurang lebih 20 menit setiap harinya. Bayi kedua saya, kemudian lahir dengan persalinan normal, pada usia kandungan 40 minggu lebih 2 hari, dalam kondisi sehat dan berat badan cukup besar, persis kakaknya (3,6 kilogram). Tidak henti-hentinya saya berterima-kasih kepada Tuhan, tim dokter serta support system di rumah (suami, keluarga) serta sahabat-sahabat dekat yang sering jadi sasaran curhat selama hamil.

Nah, jika Anda saat ini tengah hamil dan mengalami darah kental, mungkin beberapa tips sederhana ini bisa membantu:

  1. Banyak bergerak, karena pergerakan tubuh yang aktif dapat memperbaiki aliran darah. Pada kasus saya, semakin sering saya berbaring, kaki malah jadi mudah kram. Mulai dari olahraga ringan hingga jalan-jalan santai ke mall, tetaplah aktif selama hamil, ya. Kecuali Anda memiliki kondisi yang mengharuskan untuk bed rest.    
  2. Banyak minum air putih. Ini anjuran pertama seorang dokter kandungan saat saya mencari second opinon setelah hasil tes darah saya keluar. Ternyata, banyak minum air putih dapat mencegah darah untuk mengental. Jadilah saya punya alasan untuk beli tumbler lucu-lucu. Eh.
  3. Pantau terus bb janin. Pastikan beratnya selalu mengalami kenaikan sesuai standar usia janin.
  4. Makan sehat. dr Toman tidak memberikan pantangan makanan yang spesifik, kecuali untuk tetap makan makanan yang sehat dan bersih. Selama trimester 3, saya banyak makan protein, buah dan sayur serta mengurangi asupan karbohidrat karena ternyata bb janin sudah cukup besar.
  5. Jauhi stress. Jujur, kondisi darah kental kadang bikin sedih, namanya juga ibu hamil kan kadang hormonal yah. Kalau sudah galau, saya sering memanjakan diri misalnya dengan di-massage, menonton acara atau mendengarkan musik favorit dan membeli baju-baju lucu buat si baby. And Im happy again.
  6. Berserah pada Tuhan. Tuhan tidak akan memberikan cobaan atau tantangan pada mereka yang dianggap tidak mampu. Mungkin terdengar klise, tapi jangan lupa untuk selalu berdoa dan berserah diri pada Tuhan. Karena setiap usai berdoa, saya selalu merasa lebih tenang. Ada kalanya kita merasa lemah dan tak berdaya, itu manusiawi. Tapi bangkitlah dan yakinilah bahwa ibu yang kuat akan melahirkan anak yang kuat pula. Setrong!

Selamat menjalani masa kehamilan, ya. Semoga selalu menyenangkan karena tiap kehamilan adalah unik, dan tidak akan terulang.

Ami

http://www.sayaibu.com

2 pemikiran pada “Pengalaman Hamil dengan Darah Kental

  1. Saya mengalami hal yang sama…d.dimer saya 1630 dan ke dokter2 yang persis sama…hasilnya disuntik diviti 2x seminggu dan ascardia 1x sehari. Tapi saya suntik sendiri di rmh. Pernahkah mbak Ami terlewat 1 suntikan? Saya ada 1 suntikan yang kekencengan mencetnya sehingga obat sudah keluar duluan sampai ada kali setelah ampul…jadi panik takut kenapa2 kalau kurang obatnya. 😓

    Suka

    1. Halo mba Julie, maaf ya kalau balasan saya ini telat.. Karena saya nggak pede untuk suntik sendiri, saya minta surat pengantar dr dokter hematolog, jadi tetap suntik di klinik dan rs. Kalau boleh saya sarankan mungkin sebaiknya langsung wa/e-mail dokter aja ya Mba, minta pendapat kalau kondisinya seperti itu (kelewat satu suntikan dsb). Semoga kehamilannya sehat dan lancar selalu yaa.. 🙂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s