Laklak Puun: Nggak Lucu, Bli!

Berhubung masih suasana Hari Perempuan Internasional, ijinkan saya menumpahkan unek-unek tentang rendahnya kesadaran masyarakat kita terhadap penghargaan dan penghormatan bagi kaum perempuan. Masyarakat kita masih cukup permisif terhadap keberadaan jokes atau candaan yang bersifat seksis. Salah satunya, adalah dengan menjadikan alat genital perempuan/wanita yakni vagina, sebagai bahan lelucon.

Di Bali, istilah “laklak puun” dipopulerkan pada pertengahan 2017 oleh Ary Kakul, seorang Youtuber asal pulau Dewata. Laklak, merupakan sejenis kue lumpur ala Bali yang terbuat dari tepung beras dan disajikan dengan parutan kelapa yang dicampur gula aren. Sementara “puun” (dibaca: puwun), berasal dari bahasa Bali yang berarti gosong. Ungkapan ini sebenarnya sudah ada untuk mendeskripsikan jajan laklak yang terlanjur gosong. Namun, viralnya sebuah video porno antara seorang perempuan Indonesia bernama “Gek Ria” dan pria asing yang direkam di Bali membuat makna istilah tersebut bergeser. Nampaknya saya tidak usah menjelaskan lebih lanjut, ya. It’s all over internet anyway.

Nah, “laklak puun” pun kemudian diolah sedemikian rupa menjadi konten candaan di akun instagram dan channel Youtube milik Ary Kakul dengan ratusan ribu view, serta menjadi bahan meme seperti dikompilasi oleh situs ini. Iseng, saya baca-baca kolom komentar di beberapa video. Minimnya jumlah kritik terhadap candaan tentang vagina ini lagi-lagi membuat saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Malahan, ada beberapa akun bergambar profil wanita yang turut tertawa dan menganggap konten video tersebut lucu.

SEDIH. Pakai kapital.

Bagi saya (dan saya yakin, banyak perempuan), “laklak puun” adalah seksis. Istilah ini begitu cabul, porno sekaligus menjijikkan, lengkap dengan parodi si Ary Kakul memperagakan aktivitas oral seks. Terlepas dari profesi Gek Ria di video tersebut, etiskah kita menjadikannya bahan olok-olokan? Tidak bagi saya. Karena, istilah ini begitu diskriminatif, merendahkan dan mempermalukan wanita, kaum yang ironisnya melahirkan (bisa jadi lewat vagina!) dan membesarkan si Ary Kakul ini. Dan tak hanya sebatas laklak puun, Ary Kakul pun beberapa kali memposting foto maupun video yang menjadikan vagina sebagai bahan tertawaan, misalnya postingan yang sudah saya report ini.

Just how low can you go? Ary Kakul mungkin merasa kalau dia lucu, but imagine if you bring this joke to national level? 

Eh, bli.. Tolong gambar di bawah ini diresapi ya.

7A15E170-BF9B-4866-94CE-74E8E36A0F2D

(kredit foto: @MoiGillll di Twitter, Women March Jakarta 2018. Sedih tahun ini belum bisa gabung.)

Vagina bagi kami, kaum perempuan atau wanita, adalah sakral adanya. Kami merawat, menjaga, menahan sakit dan berdarah sebulan sekali. Sebuah proses yang kami yakini sebagai siklus pembersihan untuk menjaga alat-alat reproduksi kami tetap sehat. Laklak ini, atau vagina inilah yang kelak akan melahirkan anak-anak yang semoga saja menjadi kaum pengasih dan tidak seksis.

Sebagai sesama orang Bali, saya malu. Sebagai seorang ibu dari dua anak perempuan, saya merasa lelucon seperti laklak puun ini adalah ancaman bagi pola pikir modern yang menghargai setiap gender dan mengutamakan pola pikir yang intelek. Bukan mencari popularitas dengan menertawakan kondisi selangkangan orang.

Salam anti seksis ya,

Ami

http://www.sayaibu.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s