Berpisah dengan Instagram: Saya Bebas!

Sudah sebulan ini saya log out dari Instagram. Yup, saya resmi mengatakan selamat tinggal pada aplikasi yang sempat jadi candu ini. Satu hari pertama rasanya memang agak aneh, tapi lama-lama saya tidak merasa kehilangan sama sekali. Sebaliknya, ada rasa bebas. Gladly, it’s probably one of the most liberating thing I’ve ever done.

Kilas balik sejenak, saya bergabung pertama kali di Instagram pada 2011 dan langsung jatuh cinta pada keunggulan visualnya. Di masa itu, pengguna Instagram tidak semasif sekarang karena masih terbatas pada jenis ponsel tertentu. Pengguna yang saya ikuti pun adalah inner circle atau teman-teman dekat yang senang bereksperimen dengan berbagai filter. Dari gambar bunga sampai kucing, semuanya terlihat cantik dan mellow di layar Instagram.

Tapi beberapa tahun belakangan ini, saya merasa Instagram telah menjelma menjadi sebuah aplikasi yang tak lagi menyenangkan. Keberadaan para mama selebgram dan online shop di Instagram misalnya, harus diakui menjadi salah satu ajang pamer (barang endorsement, ehem) yang tak sehat, menggelitik rasa pede dan nafsu konsumtif saya. Demikian juga dengan munculnya berbagai akun “lambe-lambean” yang sepertinya cuma buat nambah dosa (walau sesekali diintip juga haha). Akun-akun tersebut, sering kali muncul di newsfeed karena ada teman yang meng-like dan cukup bikin kepo. Telunjuk pun sibuk scroll down dan mengklik berbagai laman profil yang tak saya follow. Tanpa sadar, waktu saya kemudian habis untuk hal yang tidak produktif.

Dan pada akhirnya saya lelah sendiri. Lelah melihat tren mama selebgram yang ada di awang-awang. Lelah membuat daftar tempat nongkrong terkini yang belum dikunjungi karena saya sibuk mengurus anak dan bayi. Lelah menonton beberapa instastories yang bikin KZL karena isinya kadang kebanyakan selfies (memangnya Facebook?) dan makanan (kan busui jadi laper). YHA.

Saya lelah. Saya pun log out. Saya merasa perlu detoks. Apalagi, sudah banyak penelitian yang menyebutkan bahwa berhenti bermain media sosial membawa pengaruh baik untuk kesehatan mental, misalnya yang ditulis pada artikel ini. Jadi, saya tak kaget lagi saat mendapati begitu banyak hal positif ketika Instagram absen dari hidup saya:

  • Menambah waktu luang untuk kegiatan yang lebih bermanfaat. Jujur, ini manfaat pertama yang saya rasakan. Alih-alih mengecek akun perlambean ataupun produk essential oil terbaru di Instagram, 20 menit yang berharga setiap pagi bisa saya gunakan untuk hal lain seperti: berjalan kaki keliling kompleks sambil mendengarkan Bruno Mars atau rutin membuat jus dan sarapan sehat tanpa harus rempong diupload di Instastory! Mengerjakan beberapa proyek (saya ibu bekerja dari rumah) dan menemani anak bermain pun terasa lebih fokus karena saya tidak sedikit-sedikit mengecek ponsel. Senang!
  • Merasa lebih positif. Berpisah dengan Instagram membuat saya merasa lebih baik karena saya menjadi lebih fokus, present, dan berhenti membandingkankan kondisi diri dengan orang lain. Jujur, memang awalnya ada rasa FOMO alias Fear of Missing Out, apalagi jika menyangkut teman-teman dekat atau misalnya tren MPASI kekinian. Tapi rasanya log in seminggu sekali cukup, kok. Dan entah kenapa saya pun merasa cukup tenang saat tidak mengetahui lagi berbagai printilan terkecil  kehidupan orang lain di Instagram. Semakin sedikit tahu, semakin baik. It’s true what they say, ignorance is bliss!
  • Lebih hemat. Dulu, terkadang Instagram membuat saya lebih banyak mikir tentang barang dan hal yang tidak saya miliki, dan bukannya bersyukur dengan hidup yang sudah saya jalani. Misalnya, “Oh si mama A ternyata makai clodi merk B apa mungkin lebih bagus ya, dicoba ah,” atau “Duh si C asyik banget liburan mulu, aku kapan yah, nunggu cicilan berkurang dan anak-anak agak gedean dulu kali ya..,” dan sebagainya. Lama-lama nggak sehat, kan? Apalagi kalau ternyata barangnya tidak terlalu dibutuhkan dan dibeli for the sake of trying. 

Walau judulnya berpisah, saya tidak menolak konsep Instagram. Platform ini, tetap memiliki banyak akun menarik dan inspiratif seputar parenting yang dulu sangat membantu saya terutama saat menjadi ibu baru. Cuma untuk saat ini, biarkan saya merasa merdeka. Let me enjoy this calming, quiet moment.. Mungkin nanti saya kembali seminggu sekali, mungkin juga tidak.

Bye for now! 

Ami

http://www.sayaibu.com

2 pemikiran pada “Berpisah dengan Instagram: Saya Bebas!

  1. Hallo ibuu, saja memang belum menikah tapi saya sangat suka dengan tulisan ibu.. hehehe sudah sebulanan ini saya sangat amat jarang buka instagram, karena menurut saya instagram membosankan saja sih awalnya, tapi lama2 setelah merasakan nikmatnya hidup tanpa instagram asik juga. Hehehe sekarang buka instagram cuma uplod foto kalo memang sedang ingin. Lainnya bikin hati sesek aja ih, di timeline sliweran barang yg kita kepengen nggak keturutan, bikin gak bisa bersyukur terus karena selalu ada yg lebih lebih lebih di sosial media yg satu itu. 😁

    Suka

    1. Halo Mbak Alina, terima kasih ya! Senang deh kalau ada yang sepemikiran dan bisa relate dengan tulisan saya ini 🙂 Iyaa, bener banget, apapun yang berlebihan memang kurang baik ya, kalau jadi candu bisa nggak sehat. Lagipula hidup kita dulu tanpa Instagram juga baik-baik aja kan hihi. Yup, lebih baik energi kita habiskan untuk bersyukur dan ke kegiatan lain yang positif 🙂

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s