Honest Review: Shoppasoap Shikakai Shampoo Bar

“Wah baby-nya udah ngiler ya? Masih ASI? Rambut mamanya rontok dong ya?” ujar seorang kenalan saat melihat anak kedua saya yang berumur 4 bulan asyik ngeces. Maunya sih, saya nggak terlalu percaya mitos ya, tapi kok kalau dibandingkan dengan masa postpartum anak pertama (yang ngecesnya lebih sedikit), rambut rontok kali ini cukup banyak ya? Sampai-sampai mbak asisten di rumah protes: “Bu, kalau saya nyapu sampahnya kebanyakan rambut ibu, lho.” Hiks.

Sebenarnya, kalau merujuk ke penjelasan di situs ini, rambut rontok pasca lahiran itu normal, dan tidak ada hubungannya dengan menyusui (maupun kemampuan anak untuk ngiler). Dan pada umumnya siklus pertumbuhan rambut pada ibu akan kembali normal pada saat anak berusia 6 hingga 12 bulan. Karenanya, ibu disarankan untuk mengganti gaya rambut menjadi lebih pendek dan praktis, menggunakan shampoo dan kondisioner yang tepat, serta menghindari penggunaan sisir yang membuat akar rambut mudah lepas.

Nah, setelah sukses mengganti gaya rambut jadi bob pendek, saya saya mulai mencari-cari shampoo berbahan natural yang cocok untuk rambut rontok. Saya menghindari dulu beberapa jenis shampoo populer (merk D, P, T, ehm) yang biasa dijual di drug store karena malah membuat rambut cepat lepek, berminyak dan gatal di kulit kepala. Pilihan pun jatuh ke produk Shoppasoap jenis shikakai yang diklaim dapat mengurangi rambut rontok. Shampoonya sendiri berbentuk bar, seperti gambar di bawah ini.

IMG_5016

Menurut penjelasan di situs Shoppasoap ini, buah shikakai yang banyak tumbuh di India telah digunakan selama berabad-abad untuk menjaga kesehatan rambut dan kulit kepala. Shikakai kaya antioksidan dan tinggi kandungan vitamin A, C, K dan D yang penting untuk pertumbuhan rambut. Sayangnya, penjelasan tentang kandungan lain shampoo bar ini kurang lengkap. Saat saya cek laman Instagram, disebutkan bahwa shampoo yang dibuat oleh Shoppasoap biasanya menggunakan: minyak kemiri, coconot oil, olive oil dan shea butter. Yang jelas, shampoo bar seharga 60 ribu rupiah dan berat 110 gram ini bebas paraben dan deterjen.

Satu hal lagi, ketika shampoo bar ini sampai, saya sempat kaget dengan warnanya. Saya pikir warnanya akan cokelat muda seperti yang diunggah di web atau Instagram, namun ini warnanya hijau lumut. Sempat curiga sih kalau ini yang varian urang-aring dan mereka salah kirim. Tapi begitu saya tanya ke admin Shoppasoap, mereka bilang: “Kita nggak pakai pewarna kak, jadi warna produk tidak akan bisa sama karena disesuaikan dengan kondisi bahan baku saat diolah..” Oke deh sip.

Jadi bagaimana rasanya setelah pemakaian beberapa hari?

Plus:

  • Rambut tidak lepek sama sekali, formulanya cocok untuk tipe rambut saya yang cenderung lemas dan tipis. Kalau dulu harus keramas setiap hari karena mudah lepek, sekarang keramas 2 kali sehari juga tidak masalah. Yay.
  • Kulit kepala tidak gatal, dan rasanya lebih ringan.
  • Jumlah rambut rontok pun berkurang cukup signifikan. Biasanya saat menyisir sekali langsung rontok 5 helai lebih, sekarang cuma 1-2 helai.
  • Wanginya lumayanlah. Jangan berharap bisa sewangi shampo drugstores ya, hehe. Tapi di luar dugaan, shampoo bar ini gampang sekali berbusa yah. Gosok sedikit dengan air, busanya langsung keluar. Karena homemade dan tanpa deterjen, busanya memang lebih sedikit dibandingkan dengan shampoo pabrikan.
  • Dengan harga yang cukup lumayan, rasanya worth it karena pemakaiannya super hemat. Apalagi rambut saya sekarang cukup pendek.

Minus: 

  • Ukurannya buat saya agak terlalu besar karena kurang nyaman digenggam. Mungkin bisa dibuat varian yang lebih kecil sehingga praktis juga untuk dibawa traveling.
  • Permukaan shampoo cenderung mudah licin dan lengket walaupun tidak dipakai setiap hari dan disimpan di wadah kering (tidak terendam air). Mudah-mudahan ini ini tidak mengubah kualitasnya ya. Cuma kalau dipegang suka kaget aja, haha. Oya setelah pemakaian hampir dua bulan, teksturnya jadi mengkerut dan berkeriput…
  • The good thing about using shampoo bar is, it’s zero waste. Tapi shampoo ini saat datang masih dikemas dalam plastik wrap. Kan sayang jadi nggak sesuai konsep, hehe.
  • Penjelasan mengenai kandungan shampoo ini cukup minim dan tidak konsisten (di situs resmi, Instagram maupun akun Shopee bercampur-campur dengan shampoo bar jenis lain. Mungkin kalau dibuat lebih rapi jadi lebih mudah dibaca dan calon pembeli pun jadi tahu lebih detail tentang produk yang mau mereka beli).
  • Tidak tercantum tanggal produksi dan expired date di kemasan sabun. Padahal bagi konsumen, itu sangat penting.

Mudah-mudahan produk ini awet dipakai hingga siklus rambut saya kembali normal. I’m still gonna update this post for sure! Saya juga masih penasaran dengan varian shampoo yang lain serta produk-produk skincare Shoppasoap yang diklaim paraben free. Jadi, siap-siap untuk menulis review produk Shoppasoap yang lain, ah.

Salam bebas paraben,

Ami

http://www.sayaibu.com

header image credit: darkforest.co

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s