Tips Melahirkan dengan Induksi

Pilihan untuk melahirkan dengan induksi seringkali menjadi momok bagi para ibu hamil. Salah satu penyebabnya adalah karena induksi disebut-sebut lebih sakit dibandingkan melahirkan secara alami dan drugs-free. Ada juga ketakutan bahwa  induksi memiliki risiko gagal sehingga berakhir di meja operasi. Padahal belum tentu semua itu terjadi, bukan?

Saya sendiri memiliki pengalaman diinduksi di kehamilan anak kedua. Keputusan untuk diinduksi ini merupakan inisiatif saya dan suami setelah berkonsultasi dengan dokter kandungan. Alasannya, usia janin sudah lewat HPL, berat badan bayi cukup besar dan saya mengalami kondisi pengentalan darah. Nah beberapa tips yang ingin saya bagi sebelum ibu melahirkan dengan induksi adalah:

  • Pahami dan persiapkan kondisi Anda.  Apa yang menyebabkan Anda atau dokter memutuskan untuk melahirkan melalui induksi? Dan sejauh apa Anda siap secara fisik dan mental? Saat saya diinduksi, interval kontraksi dan masa mengejan terasa lebih cepat dibandingkan lahiran biasa. Berbeda dengan lahiran anak pertama yang memakan waktu 10 jam (sejak bukaan 3), lahiran anak kedua dengan induksi memakan waktu selama 3,5 jam saja. Karenanya, fisik calon ibu terutama stamina dan cara ibu mengatur nafas amat krusial. Tips yang bisa saya berikan, adalah rajin-rajin berolahraga serta makan yang banyak sebelum melahirkan (yes!).
  • Konsultasikan pilihan dengan dokter. Cari tahu lebih jauh mengenai apakah Anda memiliki pilihan lain selain induksi beserta risikonya. Beberapa hal yang juga saya tanyakan ke dokter saat memutuskan induksi adalah: prosedur induksi, tingkat kesuksesan, risiko yang saya hadapi jenis serta dosis obat yang dipakai, apakah pihak RS mengakomodir jika saya meminta obat penghilang rasa sakit, dan sebagainya.
  • Cari support system. Orang pertama yang sebaiknya menjadi pilar utama dalam mendukung Anda adalah pak suami. Selain itu, calon ibu juga memerlukan dukungan penuh dari orang tua, keluarga besar serta sahabat-sahabat terdekat. Jauhi orang-orang yang berpotensi memberikan negative vibes atau cerita-cerita seram seputar induksi. Sebaliknya, cari tahu ibu-ibu yang punya kisah induksi sukses di sekitar Anda dan mengobrolah dengan mereka.
  • Tetap berpikir positif. I know… it’s easier said than done. Jujur saya pun sempat mengalami pre-natal anxiety karena tidak pernah merencanakan kelahiran dengan induksi sebelumnya. Saya juga ‘cuma’ diberi waktu seminggu untuk persiapan diinduksi. Tapi karena dokter saya tipenya ‘woles’, saya pun ikut-ikutan rada santai dan meyakinkan diri kalau memang itu jalan yang terbaik untuk saya dan bayi, then be it.. Dan kalaupun berakhir di meja operasi, no regrets (kata dokternya di sini sih kemungkinannya kecil, tidak lebih dari 10%). Karena saya tahu sudah berusaha semaksimal mungkin, dan yang penting ibu bayi sehat, kan?

Nah, pertanyaan besarnya, apakah sakitnya melebihi sakit lahiran normal biasa? Kalau boleh jujur, pada kasus saya sakitnya sama saja, namun karena jarak kontraksi dan bukaan demi bukaan lebih cepat dari lahiran pertama, jadi rasa sakitnya memang terasa lebih intens. Sebagai gambaran, saya masuk ruang bersalin pukul 08.00 pagi dalam kondisi bukaan 5, dan melahirkan pukul 11.27. Selama 3,5 jam tersebut, saya masih sempat mengobrol dengan suami dan dipijat oleh bu bidan. Kontraksi baru terasa sangat intens pada satu jam terakhir. Cukup kaget sih dengan gelombang kontraksi yang muncul bertubi-tubi. Untung para bidan selalu mengingatkan untuk atur nafas. Saya sempat meminta obat penghilang sakit, namun baru saja obat disuntikkan ke infus, bukaan saya sudah lengkap dan diminta mengejan. Dan yup, begitu si adik ditaruh di dada saya, wes ewes ewes hilang semua sakit kontraksinya.

Intinya, rasa sakit pasti ada. Namanya juga lahiran kan yah, tapi percaya dirilah bahwa semua rasa sakit itu akan bisa di-manage. Apalagi, sekarang tengah ngetren persalinan dengan teknik gentle birth yang katanya bisa meminimalisir rasa sakit. (Don’t ask me! Selama hamil saya cuma sempat download app-nya dan baca-baca sekilas, hihi). Selalu percaya pada Tuhan, petugas medis yang menangani Anda, percaya diri, plus percaya pada bayi Anda.

Semangat!

Ami

http://www.sayaibu.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s