Kaum Ibu, Perbedaan dan Terorisme

Dear ibu Puji Kuswati, apa yang membuatmu begitu tega mengajak anak-anakmu menjadi martir bom? Setan mana yang membisikimu?

Dua hari ini berbagai platform media sosial terasa gaduh sekaligus mencekam. Beberapa bom yang meledak di Surabaya, cukup membuat hati ketar-ketir. Ketegangan dan kesedihan mewarnai percakapan, terutama di chat group pertemanan sesama ibu. Betapa tidak, sebagian korban yang berjatuhan adalah anak-anak. Pelakunya, adalah seorang ibu yang melingkarkan bom ke perut anak-anaknya…

Sebagai seorang ibu yang berasal dari  ‘kaum minoritas’, saya ingin berteriak bahwa sebenarnya akar permasalahan dari terpecah-belahnya bangsa ini adalah satu: adanya ajaran untuk membeda-bedakan. Adanya rasa ingin membedakan, rasa paling benar dan eksklusivitas inilah yang berpotensi untuk menimbulkan rasa sentimen, bahkan benci kepada golongan tertentu.

Lalu apa hubungannya dengan kaum ibu? Tentu saja ada, karena ibu adalah pendidik pertama dan utama di rumah. Mirisnya, banyak kaum ibu yang entah sadar atau tidak mendidik anak-anak mereka untuk terbiasa membedakan dan menghakimi.

Masih segar di ingatan saya, seorang teman sesama minoritas yang sedih lantaran seorang anaknya kehilangan teman. Rencananya, mereka akan playdate bareng tapi setelah ditunggu, teman si anak tak kunjung datang. Setelah ditelpon, sang teman berkata, “Maaf yaa.. Aku nggak dibolehin main ke rumahmu sama mama. Soalnya kamu non-xxxx”. Anak-anak ini, masih duduk di bangku SD.

Kali lain, saya mendapati seorang kenalan lama mengupdate status Facebook-nya kurang lebih seperti ini: “Si kakak tadi dengan berani menegur seorang pramuniaga toko, “Tante bajunya kok seksi banget? Nggak malu ya, sama Tuhan?” So proud of you kakak..” Dengan naifnya si ibu mendorong anaknya untuk menghakimi orang lain, tanpa tahu latar belakang mereka, alasan memakai baju (yang dianggap) seksi, Padahal hey, in some cultures or religion it’s not a sin to show some skins.. 

Jujur-jujuran saja deh, banyak kan yang tipenya seperti ini?

Lalu apa solusinya? Jujur saya pun bingung. Adalah hak setiap ibu dan keluarga untuk mendidik anak mereka di rumah, maupun memilih sekolah untuk anak-anak mereka. Ingin rasanya bertanya langsung dan menghardik ibu-ibu yang mengajari anak-anak mereka paham intoleransi namun rasanya saya tak punya privilige. Saya hanya akan dianggap menggenalisir. Yang ada bisa-bisa saya dirundung.

Hanya satu yang saya ingin saya tetap katakan, bahwa sebagai ibu sebaiknya kita tidak  menggarisbawahi agama sebagai dasar pergaulan mereka. Anak harus diajari menghargai orang berdasarkan moralitas dan kualitas mereka sebagai individu, bukan agama, suku maupun ras.  Kalau berkubangnya hanya di situ-situ saja, kapan negara ini maju? Elon Musk dan teman-temannya mau wisata ke luar angkasa. Kita, masih sibuk ngurusin agama orang lain.

Sambil memeluk anak-anak, ijinkan saya berdoa agar tiada lagi ibu Puji kedua…

 

Salam.

Ami

http://www.sayaibu.com

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s