Tips Mendampingi Ibu dengan Baby Blues atau PPD

Apa yang sebaiknya Anda katakan pada ibu yang mengalami baby blues dan PPD? Apa yang jangan? 

Sebanyak 70-80% ibu yang baru melahirkan mengalami kondisi yang disebut ‘baby blues’. Sementara, hanya 10-20% yang mengalami Post Partum Depression’ (PPD). Walaupun berbeda secara intensitas, beberapa gejalanya serupa, yakni adanya perasaan sedih, cemas, takut, tak berdaya dan sebagainya. Perasaan-perasaan itu bisa muncul dan terasa begitu hebat, membuat mood berubah, dan tak dapat dikontrol dengan mudah.

Sayangnya, masyarakat kita masih kurang memahami adanya kondisi ini. Ibu yang baru saja lahiran diharapkan dan dianggap akan  berada dalam kondisi yang paling bahagia. Jika tidak, maka ibu sering kali akan dicap ‘lemah’, ‘lebay’, ‘aneh’, ‘tidak bersyukur’ dan sebagainya. 

Menghadapi istri, saudara maupun sahabat yang tengah mengalami baby blues/PPD kadang sangat tricky, karena mereka tengah sensitif dan di bawah pengaruh perubahan hormon yang belum seimbang. Pilih kata-kata yang suportif, namun tidak memojokkan maupun menghakimi perasaan mereka. 

Jangan mengatakan ini: 

  1. “Kamu nggak boleh stress, nanti kasihan baby kamu…”. Bagi ibu yang tengah mengalami baby blues, kalimat ini malah membuatnya merasa terpojok dan melipatgandakan rasa bersalah ke anak-anak. Apalagi jika ia tengah berjuang dan beradaptasi dengan kondisi menyusui dan kurang istirahat.  Komentar lain yang sering terdengar, misalnya: “Jangan stress dong, nanti ASI kamu seret..”.  Terima kasih ya, we knew, we did our homework. 
  2. “Coba kamu lebih banyak berdoa supaya tenang.” Sebagai ibu yang pernah mengalami baby blues, tak terhitung jumlah doa yang saya panjatkan pada-Nya. Kadang doa membantu, tapi terkadang tetap ada rasa sedih dan tak berdaya yang tak bisa dibendung. Lagipula  hubungan seseorang dengan Tuhan bersifat amat pribadi. Sementara, kondisi baby blues ini adalah medis, tidak ada hubungannya dengan tingkat religiusitas seorang ibu. Jadi, stop memberi saran seakan-akan ia  melupakan Tuhan. 
  3. “Ini nggak ada apa-apanya, banyak ibu-ibu yg lebih susah”, atau “Tenang dong, semua orang pernah ngalamin ini”. Mereka yang tengah baby blues/PPD sedang sensitif, dan reaksinya bisa begini: “Lho katanya kita tidak boleh membandingkan diri dengan orang lain. Kini kenapa saat merasa ‘sakit’, saya harus membandingkan diri dengan orang lain yang ‘lebih susah’?” Stop menormalisasi kondisinya, karena ibu dengan baby blues/PPD biasanya merasa sedang tidak menjadi diri sendiri.  
  4. “Banyak-banyak bersyukur, lihat sisi baiknya”, atau, “Kamu kan lagi punya baby, harusnya happy!” Andai semudah itu, maka tak akan ada kasus baby blues/PPD. Kalimat ini, malah sering muncul dari orang terdekat. Seperti cerita seorang teman yang curhat ke ibunya bahwa ia merasa sedih dan overwhelmed, tapi malah ditanggapi: “Kok bisa ya? Kalau dulu mah mama punya anak seneeng banget jadi nggak sempat sedih.” Drop, kan. 
  5. “Itu semua cuma perasaan kamu saja kok.” Ini barangkali adalah kalimat yang paling bikin sedih, karena seolah-olah menyangkal, meniadakan dan tidak mempercayai perasaan sang ibu. So please please never ever talk like this to someone with baby blues or PPD. 

Kok kayaknya salah semua ya? Jadi harusnya ngomong apa dong? Tidak rumit kok, Anda bisa mengatakan: 

  1.  “Coba ceritakan perasaan kamu, aku akan dengerin semua…” Atau, “Kalau mau nangis, nangis aja, aku di sini.” OH MY GOD, terima kasih. Just sit there and listen. Karena para ibu hanya ingin didengar tanpa dihakimi karena merasa sedih dan tak berdaya. Lalu dipeluk. 
  2. “Nanti pulang kantor aku bawain makanan favorit kamu ya”, atau “Nanti malam baby biar sama aku sebentar ya, jadi kamu istirahat.” Kalimat-kalimat seperti ini biasanya akan sangat membantu, karena mereka butuh pertolongan dan inisiatif yang konkret. Bukan yang: “jadi kamu maunya apa?” 
  3. “Kalau kamu merasa butuh bantuan medis (psikolog/psikiater) ayo kita cari.” Ini yang sempat dilakukan suami saya, dan seketika saya merasa lebih tenang, karena merasa disupport untuk mencari kondisi yang lebih baik. 
  4. “Kamu tuh hebat kuat, you did your best. I love you.” Terima kasih. Now I feel strong. I love you too! 

Ya, pada intinya, para ibu yang tengah mengalami baby blues ataupun PPD hanya butuh didengar. Perdalam komunikasi, dan perbanyak pengetahuan mengenai baby blues/PPD sehingga Anda dan pasangan segera mengenali gejala-gejalanya serta cara menghadapinya.

Oh ya, bagi para kaum bapak/ayah/papa yang tengah mendampingi istri yang mengalami baby blues maupun PPD mungkin referensi ini bisa membantu. Karena kini, baby blues maupun PPD seharusnya bukanlah hal yang ditutupi dan dianggap aib. Melainkan, sebuah fase yang harus dihadapi bersama-sama dengan pasangan sebagai proses untuk menjadi individu sekaligus pasangan yang lebih kuat dan erat. 

 

Salam dan semangat, 

Ami 

http://www.sayaibu.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s