Sharing: Pengalaman Depresi Pasca Melahirkan

Apa yang awalnya saya pikir hanya baby blues biasa ternyata jadi berkepanjangan. Minggu lalu, akhirnya saya memutuskan untuk berkonsultasi dengan seorang psikiater.

Masa pasca lahiran anak kedua menjadi salah satu fase paling menantang dalam hidup saya, karena saya didiagnosis mengalami depresi pasca lahiran. Gejala post partum depression ini banyak, seperti yang dijabarkan di sini. Tapi, yang paling sering saya rasakan adalah  perasaan moody dan sedih yang berkepanjangan, merasa tidak capable menjadi ibu (terlebih kalau anak-anak misalnya sedang susah diatur, atau sakit dalam waktu yang bersamaan), tidak berharga dan yang paling mengganggu adalah rasa lelah luar biasa, susah tidur, yang mengakibatkan saya sempat mengalami fase enggan keluar rumah.

PHEW.

Jujur, perlu banyak keberanian untuk menulis ini. Karena sebagai ibu, sering kali kita merasa harus jadi warrior, orang paling kuat di rumah, the safest place for our children. Malu rasanya kalau cerita ke orang-orang terdekat, seakan-akan kita nggak bersyukur, banyak mengeluh. Padahal sebenarnya, curhat belum tentu berarti mengeluh kan :’).

“Feeling depressed is human,” kata psikiater yang saya temui. Tak harus merasa malu, karena ini penyakit medis yang kini justru tengah ‘naik daun’. “Kalau dulu penyakit disebabkan karena virus dan gaya hidup (misalnya penyakit jantung), kini yang banyak dialami orang adalah penyakit yang berhubungan dengan pikiran, Syukurlah, ini bisa disembuhkan, asal kita mau mencari pertolongan dan mendapatkan support.

Nah, pemicu depresi yang saya alami cukup kompleks. Mulai dari proses kehamilan yang cukup menantang, hilangnya support system secara mendadak pasca lahiran, karakter anak kedua yang cukup berbeda dengan anak pertama, dan masih banyak lagi.  Jujur di awal saya sempat denial, karena merasa ini cuma baby blues biasa. Tapi kok sedih dan moody-nya berbulan-bulan? Ketika saya berusaha membuka diri ke beberapa sahabat, feedback yang didapat malah tidak sesuai dengan harapan. Saya tahu, mereka bermaksud baik dengan meminta saya banyak bersyukur, mendekatkan diri ke Tuhan, dan sebagainya, tapi semua nasihat itu malah menambah rasa bersalah saya sebagai ibu baru.

Puncaknya, adalah saat kami hendak traveling ke luar kota, tapi saya malah sering merasa gelisah, sedih, takut luar biasa dan tak bersemangat. Saat itulah, saya dan suami sepakat bahwa saya membutuhkan pertolongan profesional.

Psikiater yang saya temui mendiagnosa saya mengalami depresi ringan. Gejala-gejala yang saya alami memang menunjukkan fase depresi, tapi tidak berat sampai seperti misalnya ingin menyakiti anak-anak (haduhh nggak kebayang huhu). Saya kemudian ditawari untuk mengonsumsi anti depresan untuk meningkatkan hormon serotonin (yang berfungsi untuk mengatur mood), cuma syaratnya saya harus stop menyusui si adik.

Pikir, pikir, pikir… Akhirnya saya tolak dulu. Ada rasa bersalah kalau sampai stop menyusui, karena paling nggak saya ingin menyusui hingga dia berumur setahun, yakni 2 bulan lagi. Saya kemudian ditawari untuk melakukan observasi selama dua minggu, dan melakukan aktivitas-aktivitas di bawah untuk mengurangi gejala depresi:

  • Kena sinar matahari setiap pagi. Perbanyak kegiatan outdoor.
  • Rutin berolahraga. Seminggu sekali ternyata kurang, lho. Menurut pak psikiater, yang penting bukan berat/ringannya olahraga tapi rutinnya. Jadi mau coba rajin jogging 3 kali seminggu. Semangat sisss!
  • Konsumsi susu dan cokelat. Ini sih nggak berat ya harusnya hehe.
  • Rajin sosialisasi. Bertemu sahabat, atau kenalan baru. Atau bahkan sekedar ke tukang sayur ujung kompleks aja sudah bisa memperbaiki mood, kok.

Nah, selain melakukan nasihat psikiater di atas, ada hal-hal lain yang saya lakukan, yaitu:

  • Membuat gratitude journal atau jurnal syukur, tentang hal-hal kecil yang menyenangkan yang terjadi hari itu. Tak harus panjang-panjang, satu hari satu kalimat juga cukup. Ada banyak App-nya.
  • Membuat akun sosmed baru yang daftar followingnya khusus hal bersifat therapeutic yang saya suka (watercoloring, quilting, flower arrangement), dsb. Ini ternyata cukup penting karena kata sang psikiater, menggunakan sosial media dengan tidak bijak, dapat memperparah gejala baby blues/depresi . Tahu sendiri kan, kalau banyak akun toxic penyebar kebencian atau sebaliknya, penyebar pencitraan kesempurnaan maha dashyat? Hehe.

I can go through this. Saya akan melewati ini.

Untuk para ibu-ibu yang juga tengah melewati fase yang sama: kita bisa! Kita berharga. You are good enough. Jika Anda merasakan hal yang sama, terbukalah pada pasangan dan carilah pertolongan, ya..

 

Salam kuat,

Ami

http://www.sayaibu.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s