Sisi Lain ASI

Seorang ibu selayaknya mengetahui batasan dirinya dalam menyusui. Jika aktivitas menyusui bukannya menambah bonding antara ibu dan bayi, then it’s okay to stop.

Saat sedang menyusui anak kedua, beberapa teman terdekat yang sama-sama punya bayi kadang curhat: “Aduuh, zombie banget gue minggu inii… Anak gue tiap malem bangun 5 kali.” Atau, “Anak aku lagi ga mau ASIP dari dot, jadi semaleman pasti dia nenen nggak lepas-lepas…”

Ya, menyusui memang melelahkan, beneran. Apalagi kalau anaknya tipe yang dikit-dikit ‘ngek’ minta mimik, atau mimiknya sering dan agak agresif seperti anak saya yang kedua: jungkir balik dengan posisi downward dog ala yoga dan muter sampai hampir 360 derajat, lengkap sambil nyubit-nyubit dan ngacak-ngacak baju dan rambut. Nggak ada rasanya yang lebih melelahkan dibanding begadang atau bangun berkali-kali semalam untuk menyusui. Seperti yang pernah saya baca di sebuah forum: “nursing can be very brutal, exhausting and isolating.”

Dulu, saya cukup merasa bangga saat berhasil menyusui anak pertama hingga 2 tahun. Kebetulan si kakak juga tipe yang tidak rewel, dan mudah saat disapih. Kini, walau tetap bangga bisa menyusui si adik selama kurang lebih 14 bulan, rasanya kadang ingin mengibarkan bendera putih. Lelah, sis. Saya akui saya bukan tipe nocturnal yang bisa bangun 4 kali semalam terus-menerus dan tetap berfungsi 100% di pagi hari.

Apa? Saya kurang bersyukur? Tidak, saya sangat-sangat bersyukur namun kalau menyusui malah membuat saya lelah mental dan fisik, kenapa harus diteruskan? Masih ada opsi lain agar anak tetap dapat nutrisi dari susu, yakni sufor maupun UHT. (Ini nanti saya ceritakan di post terpisah saja, ya..)

Beberapa hal di bawah ini pernah juga saya coba untuk mengurangi frekuensi mimik adik di malam hari:

  • Dibuat capek dan kenyang sebelum tidur. Segala macam camilan, sudah. Main kejar-kejaran sama kakak, sudah. Diajak jalan keluar, sudah.  Tapi kok tetap saja minta mimik 4-5 kali semalam, ya?
  • Metode crying it out, yakni membiarkan si adik menangis saat meminta mimik. Awalnya terlihat sukses, karena dia lelah dan akhirnya tidur lagi. Lama-lama gagal karena anaknya mulai bisa ‘protes’ dengan cara nendang-nendang dan maksa buka pakaian untuk minta mimik.
  • Hypnoparenting, dengan mencoba memberikan sugesti positif pada adik menjelang dia tidur. Caranya, dengan membisikinya kalimat positif saat matanya mulai berat: “Adik, bobonya yang nyenyak ya, sayang…” Sayang metode ini nggak mempan juga. Mungkin juga saya kurang persisten dalam melakukannya karena udah mengantuk duluan, hahaha..

Ada yang punya ide lain agar anak saya tidurnya nyenyak?

Di titik ini, saya akhirnya tersadar bahwa ada kalanya kita harus menerima anak kita apa adanya, dan berdamai dengan kondisi. Menyadari bahwa sebagai ibu, tidak ada seorang pun yang sempurna, dan tidak masalah jika kita mengakui jika kita bisa lelah dan memiliki batas kemampuan.. It’s okay! It’s human. 

Nah, kini misi saya adalah berusaha menemukan susu tambahan yang cocok buat si adik. Sembari berdoa, semoga kalau malam minta mimik susunya tidak sesering ASI…

 

salam menyusui, baik ASI maupun sufor,

Ami

http://www.sayaibu.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s