13 Things Mentally Strong Parents Don’t Do: Melawan Rasa Bersalah dalam Parenting

Bagi saya, buku ini jadi salah satu kitab pegangan yang wajib punya. Bahasannya dekat di hati, bahasanya mudah dicerna dan menyenangkan untuk dibaca berulang kali.

Pertengahan tahun lalu, saat tengah dilanda baby blues berat, saya tak sengaja menemukan buku ini. Ceritanya, salah seorang sahabat lama, ibu dari dua anak pra-remaja membagi beberapa quote dari buku yang ditulis Amy Morin ini di laman instatory miliknya. Voila! Pas banget, karena saya memang tengah mencari buku pegangan yang dapat menguatkan mental saya sebagai ibu baru dari dua anak.

517rvximdnl

Apa saja sih 13 hal yang tidak dilakukan para orang tua dengan mental yang kuat? Berikut contekannya, ya.

ouaewdgwi4qnmfm3vtinifcbjcvdom1ej8ik8vsxfmf4cvlw1l!3w4iq1joesjjt7qjbfnizs3bectsif3yqfxgeupc40rypui1vfs9vqoakwc8uwbvg8cj8qrmmtlhj

Kalau boleh diterjemahkan secara santai, maka ketiga belas hal tersebut adalah:

  1. Mereka tidak memiliki sikap ‘victim mentality, atau sikap mental yang merasa diri menjadi korban keadaan.
  2. Mereka membesarkan anak tanpa dibayangi rasa bersalah.
  3. Mereka tidak menjadikan anak sebagai pusat dunia, alias tidak memanjakan anak.
  4. Mereka tidak membiarkan rasa takut mendikte pilihan-pilihan yang mereka buat.
  5. Mereka tidak membiarkan anak-anak memiliki ‘power’ melebihi orang tuanya.
  6. Mereka tidak mengharapkan kesempurnaan.
  7. Mereka tidak membiarkan anak mereka menghindari tanggung jawab.
  8. Mereka tidak menutupi/menjauhkan anak dari rasa sakit.
  9. Mereka tidak merasa bertanggung jawab terhadap emosi yang dirasakan anak.
  10. Mereka tidak mencegah anak-anak dari membuat kesalahan.
  11. Mereka tidak bingung membedakan tindakan disiplin dengan hukuman.
  12. Mereka tidak mengambil jalan pintas untuk menghindari ketidaknyamanan.
  13. Mereka tidak mudah kehilangan nilai-nilai yang mereka anut.

Melawan rasa bersalah

Salah satu chapter favorit saya, adalah saat Amy Morin membahas tentang rasa guilty atau bersalah yang kerap kali menghinggapi pikiran orang tua. Ini jelas-jelas saya rasakan saat baru saja memiliki anak kedua. Sibuk mengurus bayi membuat saya terkadang tidak sempat menemani kakak bermain atau bercerita sebelum tidur, dan rasanya bersalah sekali. Untuk menebus rasa bersalah itu, akhirnya saya jadi sedikit memanjakan kakak, mengabulkan setiap permintaannya, padahal itu juga tidak baik, kan..

Ada yang pernah mengalami perasaan serupa?

Nah ada tiga jenis rasa bersalah yang dibahas di buku ini, yakni: appropriate guilt, unnecessary guilt, dan chronic guilt. Dibahas juga bahwa dengan merasa bersalah, maka biasanya itu akan tercermin pada perilaku kita ke anak, dan tanpa sadar memberi dia ‘pesan yang salah’. Misalnya, jika anak melihat karakter kita yang sedikit wishy washy alias ‘mudah ditawar’ dalam membuat keputusan, maka mereka bisa belajar untuk memanipulasi kita dan orang lain.

Jadi harus bagaimana?

Menurut Amy Morin, ada beberapa tips untuk menghilangkan rasa bersalah tersebut, misalnya menghindarkan diri dari kebiasaan membuat prediksi yang buruk, memaafkan diri dari kesalahan yang kita buat, dan masih banyak lagi. Saya tidak mau terlalu spoiler ya, hihi. Nah, saran yang terakhir ini  jleb banget di hati:

Strive to be good enoughalias berusahalah menjadi orang tua yang cukup baik. Karena tidak ada yang namanya orang tua sempurna. Ya. Kalau kita memaksakan diri menjadi orang tua maha sempurna, hal tersebut tidak akan memberikan benefit pada anak kita. Karena nantinya mereka akan menjadi individu dewasa yang harus berjuang saat berhadapan dengan dunia dan manusia lain yang juga tak sempurna. Setiap kesalahan parenting yang kita buat adalah kesempatan bagi mereka untuk membangun kekuatan mental anak. Karenanya, jadilah orang tua yang cukup baik, dengan segala kekurangan kita. Don’t be too hard on yourself.

Noted with thanks!

***

Jujur, membaca buku ini dari bagian introduction saja sudah membuat mata saya basah, karena kisah hidup Amy Morin yang menurut saya cukup tragis, yakni harus kehilangan partner hidup untuk selamanya. Suaminya, Lincoln meninggal dunia secara mendadak di saat mereka memutuskan untuk menjadi foster parents, atau orang tua asuh khusus untuk anak yang mengalami masalah perilaku di AS. Diceritakan juga bagaimana Amy, yang seorang psychotherapist dan college psychology instructor menata hidup kembali dan mewujudkan mimpinya untuk menjadi foster parent.

Selain itu, salah satu hal yang juga saya suka dari buku ini, adalah tips yang mereka berikan di setiap chapter, tak hanya untuk orang tua, namun juga untuk anak. Tips untuk anak ini dibedakan lagi berdasarkan klasifikasi umur: preschooler, school age kids, dan teens. Karena memang, pendekatan dan metode parenting itu bisa berbeda sesuai dengan usia mereka. Lengkap banget, kan?

Salam,

Ami

http://www.sayaibu.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s